Cerpen: Cintaku Kandas di Jendela Kamar

Cintaku Kandas di Jendela Kamar

            Namanya Surti, dia adalah seorang gadis kelas 11 di sebuah SMA favorit salah satu kota di Jawa Tengah. Sebenarnya semenjak ia duduk di kelas 10, ia diam-diam mengagumi kakak kelasnya yang terkenal sebagai cowok ter-cool di sekolah itu. Kakak kelas yang ia kagumi itu bernama Joni. Di sekolah, Joni merupakan cowok idaman cewek-cewek, karena dia mulitalenta dan tampan sehingga membuat setiap gadis yang melihatnya menjadi klepek-klepek. Tak heran, banyak cewek-cewek yang ingin merebut hati Joni dengan berbagai cara pendekatan, namun belum ada satupun yang berhasil.
            Begitu pula dengan Surti, sebenarnya ia juga ingin berkenalan lebih dekat dengan Joni, kakak kelasnya itu. Walaupun mereka berada pada satu ekstra yang sama, yaitu ekstra bola basket, yang diadakan setiap hari kamis, tidak cukup membuat Surti untuk berani mengungkapkan perasaannya kepada Joni. Karena Joni terlalu populer. Hari demi hari Surti hanya bisa mendam perasaannya saja.
“Kak Joni, sebenernya aku suka banget sama kakak” batinnya, “tapi kakak begitu populer, aku jadi nggak berani ngomongnya, apalagi sebentar lagi kakak mau lulus” renungnya dalam kamar, sebelum ia tidur.
***
Waktu malam Minggu tiba, Surti dan kakaknya yang bernama Sri, pergi ke Alun-alun kota, untuk bersantai-santai sambil ngeronde dan makan jajanan yang ada disana. Karena sudah lama mereka tidak pergi bersama.
“Kak, lama ya kita nggak jalan-jalan ke sini kalau malam Minggu” kata Surti.
“Iya ti, kakak kan sibuk kuliah, nah mumpung ini kuliah lagi libur, kakak mau temeni kamu kesini” balas kakak.
Tanpa Surti diduga, ternyata Joni juga pergi ke sana bersama teman-temannya. Joni pun melihat Surti, lalu ia menyapanya yang sedang duduk-duduk, sambil memegang mangkok wedang ronde.
“Hi, Surti.” sapa Joni pada Surti.
“Eh, iya kak Joni.” jawab Surti.
“Tumben malam Mingguan ke sini?” tanya Joni.
“Emm, iya mumpung kakak aku libur kak.” sambil tersemyum malu-malu.
“Oh, gitu, ya udah ya, aku mau nemuin temenku dulu, mari kak, bye Surti..” ucap Joni lembut.
“I, iya, bye.” jawab Surti sambil melambaikan tangan.
Pipi Surti berubah menjadi merah merona, ia terpesona, ternyata cowok yang disukainya itu mengenal dia. Setelah Joni pergi, Surti memberanikan diri untuk bercerita pada kakaknya tentang perasaan Surti pada Joni.
“Kak, kakak tau cowok tadi?”
“O, yang tadi ya.. siapa?” tanya kakak.
“Cowok yang tadi itu kakak kelasku, namanya Joni.” jawab Surti sambil tersenyun sendiri.
“Idih, kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu ti..?” tanya kakak heran.
“Emm, nggak kenapa-kenapa kok kak.” jawab Surti malu-malu.
“Hayo, ngaku deh sama kakak!" ledek kakak.
“Ahh, kakak.”, bela Surti, “Gini nih kak, sebenernya..... aku suka sama cowok tadi.” lanjutnya.
“Cie, ada yang lagi kasmaran nih.” sindir kakak.
“Udah ah kak, yuk kita pulang aja, dah malem ni." cetusnya.
“Iya, iya, jangan ngambek ya..” bujuk kakak.
Akhirmya mereka pulang ke rumah mereka karena malam makin larut. Dalam perjalanan pulang, Surti masih masa mengingat-ingat saat Joni menyapa Surti. Seolah-olah kejadian itu telah terekan dalam pikirannya, dan tak bisa dihapuskan. Betapa tidak, seseoran yang ia sukai tiba-tiba muncul didepannya dan menyapannya. Memikirkannya, Surti bagaikan melayang ke langit biru, tak terlukiskan rasa gembiranya.
***
“Kak Joni, apa kamu juga suka sama aku?” Tanya Surti dalam hatinya saat ia di kamar.
Tiap malam ia selalu bertanya sepetri itu. Pertanyaan-pertanyaan itu kadang ditulisnya pada buku diary, sebagai tempat curahan harinya.  Namun, pertanyaan itu tak kunjung-kunjung terjawab. Bulan demi bulan pun berlalu, dan perasaan Surti ini makin bertambah besar pada Joni.
***
Hingga akhirnya, di penghujung bulan April, setelah Joni selesai Ujian Nasional, tanda-tanda jawaban dari pertanyaan Surti pun mulai terlihat. Tanpa ia duga, di hari Minggu saat matahari hendak terbenam, Joni tiba-tiba sudah berada di depan rumah Surti yang letaknya tidak jauh dari pusat kota. Ia sudah berpakaian rapi dan membawa bucket bunga dan cokelat, kemudian ia memanggil Surti dari luar pagar rumahnya.
“Surti…” panggilnya secara lantang.
            Dari dalam rumah, dengan wajah yang terheran-heran, Surti mengintip dari balik jendela rumahnya. Sebenarnya ia tidak yakin apakah orang yang memanggilnya itu adalah Joni. Karena di luar agak gelap, jadi wajahnya tampannya tidak begitu jelas. Surti pun menghidupkan lampu luar rumah, dan untuk yang kedua kalinya mengintip di balik jendela. Saat dilihatnya bahwa memang benar Jonilah yang menangilnya dari luar pagar, ia menjadi shock. Sambil gemetaran ia membuka gagang pintu untuk membuka pintu rumahnya dan keluar.
Pikirnya “Apakah ini mimpi? Kak Joni sekarang ada di depan rumahku?!”
Secara manusia sih bisa dibilang impossible banget. Kalau Joni bakal berada di depan rumahnya. Namun inilah kenyataannya. Ternyata Joni selama ini suka mengamati dan Surti, dan ia menaruh perasaan padanya. Namun Joni belum berani mengunkapkan perasaannya itu, karena ia harus fokus dulu pada Ujian Nasional. Kini setelah ia free, ia baru berani mengungkapkan bahwa ia suka pada Surti.
Surti pun keluar rumah dan bergegas menuju Joni. Langkahnya perlahan tapi pasti. Hingga ia sampai di pintu pagar dan membukanya.
“Hai, Surti…” sapa Joni lembut.
“Hai juga kak, ada apa kakak kesini?” tanyanya penasaran.
“Emm, gini ti, aku datang ke sini, mau bilang sesuatu, sebelumnya, terimalah ini.”
“Wah, cantik banget, makasih kak.” Surti tersenyum kegirangan.
“Surti, sebenarnya, aku dari dulu suka sama kamu, trus kamu mau nggak jadi pacar aku?”
“Hah, seriusan kak?” Surti melongo dan terkejut.
“Iya dong, gimana?” Tanya Joni kembali.
“I, iya kak, aku mau jadi pacar kakak.” Surti sambil mengangguk.
“Yes, makasih Surti sayang, nanti aku hibungi lagi, udah sore nih aku pulang dulu ya.” Joni tersenyum bahagia.
”Iya kak, hati-hati ya..”
“Bye sayang..” Joni sambil menyalakan sepeda motornya.
“Bye Juga kakak sayang..” jawab Surti sambil melambaikan tangannya.
            Akhirnya Joni pulang, dan Surti masuk ke rumah dengan girangnya. Tak disangkanya Surti, bahwa Joni bakal nembak dia. Malamnya, mereka saling chattingan.
“Sayang lagi ngapain?” Tanya Joni lewat bbm.
Beberapa menit kemudian Surti membalas, “Lagi nunggu bbm dari kakak sayang.”
“Ah, so sweet banget, maaf ya say, baru bisa nge-chat kamu sekarang.”
“Iya nggak papa kok kak say.”
            Setiap hari mereka ber-chatting-an kadang hingga larut malam. Joni yang merupakan tipe cowok romantis, selalu bisa membuat kejutan-kejutan manis untuk Surti. Dan hal ini sudah berlangsung selama 3 bulan. Mereka saling bertukar curhatan dan menyemangati satu sama lain.
            Saat pengisian SNMPTN jalur undangan Joni pun mengisi pilihan jurusan manajemen di Universitas Indonesia.
***
            Hingga tiba saatnya perpisahan bagi siswa kelas 12 dan pengumuman kelulusan. Joni senang, sekaligus ia merasa sedih. Ia senang karena perjuangannya sekolah selama 3 tahun di SMA ini akhirnya telah usai. Namun yang membuatnya sedih adalah, hubungannya dengan Surti yang baru seumur jangung ini harus benar-benar diperjuangkan. Karena mengingat akan cita-citanya untuk bisa melanjutkan sekolah di Univeritas Indonesia jurusan manajemen, ia menjadi galau. Dan Surti selalu mendukung setiap keputusan-keputusan yang Joni ambil, apalagi dalam hal mengejar cita-citanya itu.
Saat pengumuman pun tiba, ternyata Joni lulus dengan hasil yang memuaskan dan diterima di Universitas Indonesia di jurusan menejemen. Joni sangat senang sekali, karena ia dapat meraih mimpinya itu. Kemudian ia memberitahu Surti, tentang keberhasilannya itu lewat sms.
Surti membalas, “Selamat ya kakak sayang, aku bangga pada kakak.”
“Iya, Surti sayang, nanti sore kita makan keluar ya, kakak jemput.”
“Oke kak.” Balasnya.
Surti memang kelihatan senang, tetapi sebenarnya ia tidak baik-baik saja.
***
            Sorenya Joni menjemput Surti dan mengajakknya makan di rumah makan tak jauh dari tempat tinggal Surti. Keduanya saling asik ngobrol tentang kelulusan Joni dan kegiatannya setelah ia lulus. Setelah selesai menikmati makan malam, Joni segera mengantarkan Surti ke rumahnya, karena sebentarlagi Surti akan menghadapi Ujian Kenaikan Kelas, ia harus fokus dalam belajarnya dulu oleh orang tuanya.
***
Waktunya Surti untuk menghadapi tes UKK. Dengan persiapan yang lumayan matang dan dengan ditambah dukungan dari Joni, Surti pun dapat mengerjakan soal-soal yang diujikan dengan mudah. Akhirnya satu minggu setelah selesai ujian, hasil ujianpun dibagikan. Dengan ditemani sang ibu, Surti dating kesekolahnya dan menunggu di luar kelas, saat penganbilan rapor. Ia diluar deg-degan, penasaran akan hasil belajarnya selama satu semester ini. Setelah menerima rapor dari ibunya, Surti sangat gembira, ternyata ia memperoleh nilai sangat memuaskan. Ia menduduki peringkat satu parallel sekolahnya. Mendengar hal itu, Joni kemudian memberi ucapan selamat pada Surti lewat bbmnya.
“Surti sayang, selamat atas keberhasilanmu menjadi juara satu parallel, ya :D.”
Balas surti, “Makasih kak, kakak adalah salah satu motivasiku untuk belajar supaya aku bisa melanjutkan kuliah di universitas yang sama dengan kakak sayang.”
“Amin, kakak sayang doakan yang terbaik buat Surti sayang kok.”
            Selama liburan sekolah Joni dan Surti sering pergi keluar untuk jalan-jalan, menghabiskan waktu liburan yang tidak begitu lama.
***
            Minggu demi minggu berlalu, Surti pun mulai memasuki hari-harinya menjadi siswi kelas 12 yang akan diperhadapkan dengan kesibukan-kesibukan baru. Begitu pula dengan Joni, ia mulai menyiapkan kuliahnya yang berada di Jakarta. Dan merekapun sudah mulai jarang bertemu, karena kegiatan masing-masing yang berbeda-beda dan tidak ada waktu yang luang. Kini mereka terpisahkan oleh jarak yang jauh. Di bulan pertama, hubungan mereka masih baik-baik saja. Mereka masih dapat mempertahankan kepercayaan satu sama lain, dengan selalu berchattingan lewat bbm, telpon-telponan, atau kadang-kadang skype-an, membuat jarak yang jauh terasa dekat.
            Siang ini sepulang sekolah, Surti merasa kangen sama Joni, kemudian ia berinisiatif untuk menelpon Joni.
“Halo, kakak lagi apa sekarang?” Tanya Surti.
“Hai sayang, ini habis pulang kuliah, tadi ada jam.” Jawab Joni.
“Kakak udah makan belum?”
“Belum nih, say.. abis, nggak ada kamu, aku jadi nggak selera makan, aku kangen kamu.”
“Yah, kakak, jangan gitu dong, ayo makan dulu biar tetep kuat (9*.*)9.” Surti mencoba menyemangati Joni
“Iya deh, sambil liat foto kamu ya..”
“Ah kakak, ya sudah kakak bye.”
“Bye say.”
***
Namun memasuki bulan kedua ketiga hubungan jawak jauh ini, mulai merenggang. Tidak seperti dulu lagi. Joni mulai jarang memulai chatinggan dengan Surti hingga suatu hari Surti yang memulainya dahulu.
“Kakak sayang, aku kangen banget sama kamu, udah lama kita nggak bertemu, nggak jalan bareng.” Ucap Surti lewat bbmnya.
5 jam kemudian joni baru membalas, “Iya Surti sayang, kakak juga kangen banget sama kamu, tapi kakak juga harus kuliah disini, dan banyak banget tugas-tugas kakak.”
“Sekarang kakak sudah nggak perhatian lagi sama aku.” Balasnya.
“Nggak gitu ti.”
“Minimal kan kakak bisa sms aku atau chattingan sama aku satu kali, udah tiga hari ini kakak ngabaikan aku.”
“Minggu ini aku bener-bener sibuk ti, tolong ngertiin aku dikit.”
            Surtipun tidak membalas chattingan Joni kali ini. Joni kemudian menelepon Surti, namun Surti tidak mengangkat pangilan dari Joni. Ia hanya bisa melihat handphonenya saja. di kamarnya ia merasa bahwa sekarang Joni sudah berubah 180 derajat, berbeda dengan Joni yang dahulu pernah dikenalnya. Sifatnya dulu ramah, penyayang, sabar, kini menjadi suka marah-marah dan tidak perhatian.
***
Kini keduanya sudah jarang menyapa satu sama lain, dan rasa sayang diantara mereka perlahan-lahan mulai memudar. Mereka tidak bisa lagi menutupi keresahannya yang timbul akibat hubungan yang terpisahkan oleh jarak ini. Hingga tibalah mereka sampai di titik terjenuh, dan Surti pun mengambil keputusan untuk memutuskan Joni lewat sms.
“Kak Joni, aku ingin bilang sesuatu, pertama aku mau bilang terimakasih sudah menemani hari-hariku selama eman bulan ini, kedua aku mau minta maaf, karena aku pikir, hibungan ini tidak bisa bertahan lama, dan lebih baik kita akhiri sampai sini saja. Surti.”
10 menit kemudian Joni membalas sms Surti, “Baiklah ti, aku pikir sebaiknya kita sudahi saja hubungan ini.”
Keputusan itu dapat diterima oleh kedua belah pihak. Hubungan yang telah terjalin selama 6 bulan ini akhirnya kandas ditengah jalan.
            Malam harinya setelah Sutri memutuskan Joni, ia merenung sendiri dikama, tak terasa air matanya membasahi pipi Surti yang chabby itu. Sebenarnya ia masih tidak percaya bahwa ia bisa berpacaran dengan Joni selama ini, karena pacar-pacar joni yang sebelumnya tidak pernah bertahan lebih dari 3 bulan, ternyata ia adalah pacar terlama Joni. Pikirannya menjadi kacau balau. Setelah itu Surti bernostalgia sambil duduk di kasurnya, mencoba mengingat-ingat masa lalunya ketika ia SMP. Ternyata setelah diingat-ingat, dulu ia sudah pernah bergonta-ganti pacar lebih dari 5 kali!!!
Di tengah-tengah perenungannya, dari luar pintu terdengar langkah seseorang menaiki tangga menuju kamar Surti dan mengetuk pintu kamarnya. Dengan wajah yang panik, Surti segera menghapus air matanya yang telah membasahi pipinya. Ia tidak mau terlihat sedih di depan keluarganya. Kemudian Surti mempersilakan masuk orang itu. Ternyata yang mengetok pintu tadi adalah kakaknya Surti, kemudian ia mendekati Surti yang sedang patah hati. Kakak Surti ini begitu peka dengan tingkah laku adiknya. Semenjak kecil Sri merupakan tempat peraduan isi hati Surti saat Sutri menghadapi masalah. Namun kini Surti jarang membagi beban hatinya pada kakaknya. Sang kakak kemudian bertanya pada Surti.
“Kamu kenapa ti, apa ada masalah lagi?”
“Enggak ada kok kak, aku nggak kenapa-napa, aku baik-baik saja.” jawab Surti mengelaknya.
“Ti, kakak tau kamu sejak kecil, mana mungkin kamu bisa membohongi kakak, kalau kamu begini ini, pasti ada masalah, ayo cerita aja sama kakak, siapa tau kakak bisa bantu kamu.” Bujuknya lembut. “Jangan-jangan kamu habis putus sama pacarmu ya..” ledek kakak.
“Iya kakak, aku baru aja putus sama kak Joni.” Air mata Surti keluar lagi.
“Udah jangan nangis lagi, dulu waktu kamu SMP, putus sama pacar nggak sampek segininya.”
“Tapi kak Joni ini beda dari mantan-mantanku yang lain, kak.”
“Tetap saja mereka sudah menjadi mantanmu, memangnya yang membuat Joni beda dari mantan-mantanmu yang lain apa?”
“Dia, dia, kak Joni adalah tipe cowok yang aku idam-idamkan kak.”
“Hmm, jadi menurutmu baru dia yang srek dihatimu?”
“Iya, kak.”
“Tapi kakak mau Tanya sama kamu, apa kamu bener-bener menemukan cinta sejati dalam Joni.” Tambahnya, “Jangan-jangan karena kamu suka dia hanya karena ketampanan dan kepopulerannya saja, padahal ia tidak pernah memberikan mu cinta sejati.”
Sutri mulai berpikir dan bertanya dalam hatinya, “Apa iya ya, selama ini aku suka sama kak Joni hanya karena ketampanan dan kepopulerannya, dan sebenarnya aku tidak benar-benar menemukan cinta sejati dari kak Joni?”
“Aku nggak yakin kak.” Jawab Surti bingung sambil menggelengkan kepala.
“Gini Ti, kamu tidak akan pernah bisa menemukan kemurnian cinta sejati itu dari seorang cowok.”
“Maksudnya gimana kak?”
“Maksud kakak, bukan bukan berarti cowok itu kurang ajar, melainkan hanya ada saru pribadi yang bisa memuaskan hasrat cintamu yang mengelora ini.”
“Hanya ada satu pribadi? Siapa itu kak?” tanyan Surti penasaran.
“Beneran pengen kenal, Pengen kenal aja apa pengen kenal banget nih?” jawab kakak menggoda.
“Ihh, kakak bikin penasaran aja, ya pengen tau banget lah.”
            Kemudian sang kakak mengajak Surti menuju jendela kamarnya, dan menatap ke langit.
Langit malam itu tampak cerah, terlihat bulan sabit dan bintang-bintang yang bertebaran. Kemudia kakak Surti mulai bertanya.
“Ti, kamu tau nggak, siapa yang menaburkan bintang-bintang dilangit itu?
“Tau kak.”
“Trus kamu pasti juga tau Siapa yang membuat bulan bisa ketihatan bercahaya di malam hari.”
“Tuhan kan kak.”
“Tepat sekali.”
“Terus apa hubungannya sama cinta sejati yang kakak bilang tadi?”
“Hubungannya yaitu, bahwa hanya Dialah, Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini yang bisa memenuhi rasa kehausan akan cinta yang ada padamu.”
            Surti pun terdiam, ia masih belum paham dengan apa yang dikatakana oleh kakaknya.
Tanya kakaknya lagi, “Surti, apakah kamu mau untuk mengalami cinta sejati dari Sang Pencipta?”
“Pasti mau kak.” Ujar Surti penuh semangat dan memeluk kakaknya. “Tapi, gimana caranya kak?” Tanya Surti lagi.
“Caranya gini Ti, tinggal berdoalah aja, pertama, akui bahwa dirimu berdosa, kedua, akui bahwa Tuhan mau menggantikan dosamu dan telah mengampuninya, kemudian mintalah Dia masuk di dalam hatimu sebagai Tuhanmu.”
Sutripun mau, kemudian berdoa seperti yang dikatakan oleh kakaknya tadi. Semenjak peristiwa itu si gadis hidupnya menjadi penuh dengan sukacita. Walaupun sekarang ia jomblo ia tetap merasa senang, katanya.
“Aku memang jomblo, tapi di dalam hatiku ada cinta yang begitu besar, yaitu cinta dari Sang Mahakuasa.”

-TAMAT-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Mengikuti Rekrutmen Kerja di Perusahaan Pangan Posisi R&D (Research and Development)

Pengalaman Mengikuti Job Fair: Tips untuk Freshgrad

Perkenalan